Keranjingan Shopping, Pertanda Tekanan Jiwa?

ISTILAH keranjingan belanja atau shopaholic mungkin hanyalah lelucon bagi mereka yang gemar menghamburkan uang. Anda juga sesekali mungkin pernah berbelanja tanpa kontrol dan baru tersadar setelahnya bila sekian banyak barang yang dibeli sebenarnya tidaklah diperlukan.

Bila hasrat belanja Anda masih sering dapat direm, itu hal yang wajar. Tetapi bila hasrat cenderung tak terkendali sehingga bersifat obsesif atau kompulsif, Anda harus waspada. Bisa jadi, perilaku  yang Anda alami merupakan indikasi adanya problem kejiwaan.

Menurut suatu riset terbaru yang dimuat Journal of Consumer Research, keranjingan shopping dapat menjadi indikator timbulnya beragam persoalan mulai dari krisis finansial, konflik keluarga, stres, depresi hingga hilangnya kepercayaan diri. Hasil penelitian ini juga mengindikasikan, saat ini banyak orang terjebak pada perilaku belanja kompulsif dan jumlahnya mungkin melebihi yang diperkirakan.

Tim peneliti yang terdiri  dari Nancy M. Ridgway dan Monika Kukar-Kinney dari Universitas Richmond dan Kent B. Monroe (Universitas Illinois at Urbana-Champaign) berhasil merancang suatu teknik skala untuk mengukur derajat perilaku belanja kompulsif.

Skala ini berisi sembilan pertanyaan, dan para peneliti meyakini teknik baru ini jauh lebih baik ketimbang pengukuran sebelumnya dengan mengidentifikasi jumlah orang yang terlibat dalam perilaku compulsive shopping.

“Skala ini didesain untuk mengidentifikasi konsumen yang memiliki keinginan kuat untuk belanja, menghabiskan banyak uang secara teratur, dan mengalami kesulitan menolak impuls untuk membeli,” terang peneliti.

Teknik pengukuran sebelumnya hanya memperhitungkan sebagian besar konsekuensi  perilaku berbelanja, seperti krisis keuangan atau percekcokan keluarga seputar keuangan.  Padahal menurut peneliti, tukang belanja dengan pendapatan besar mungkin akan jarang mengalami problem finansial, tetapi sebenarnya memiliki kecenderungan perilaku kompulsif.

Setelah menganalisis tiga hasil riset yang dilakukan terpisah, para peneliti menemukan bahwa perilaku belanja kompulsif  berkaitan dengan materialisme, menurunnya kepercayaan diri, depresi, kecemasan dan stres.

Mereka yang berperilaku kompulsif memiliki perasaan positif berkaitan dengan belanja selain juga cenderung menyembunyikan barang belanjaan, mengembalikan barang, lebih banyak berdebat dengan keluarga dan memaksimalkan jatah kartu kredit.

Para peneliti menemukan sekitar 8.9 persen populasi yang dijadikan obyek penelitian adalah mereka dengan perilaku belanja kompulsif. Jumlah ini jauh lebih besar bila identifikasi dilakukan dengan cara saringan klinis biasa, yakni hanya sekitar 5 persen saja.
AC
Sumber : sciencedaily

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: