Sahabatku, Atasanku

Sahabat adalah segalanya bagi Anda. Di saat sedang dilanda kesusahan, baik di tempat kerja maupun di dalam kehidupan sosial dan pribadi, teman karib atau sahabat memegang peranan penting. Entah sebagai teman curhat, saling berbagi di saat suka dan duka, atau saling membantu dalam menyelesaikan tugas yang dirasa sulit.

Namun, ada kalanya suasana pertemanan yang erat dan hangat ini berubah ketika tiba-tiba sang sahabat lebih dulu mendapatkan promosi jabatan dibanding Anda. Bisa saja pada awalnya Anda senang atas keberhasilannya dan mengharap bisa memanfaatkan posisinya. Atau, justru Anda iri dan cemburu dengan apa yang dicapainya.

Atau, bisa saja secara tiba-tiba menjauhi sang sahabat dan tak mau lagi berteman dengannya. Wah, jangan terlampau sensitif, dong! Sebaiknya Anda introspeksi diri dan mengenal lebih jauh kapasitas di dalam pekerjaan Anda. Mungkin saja Anda masih memiliki sejumlah kekurangan dibandingkan dengan sahabat terbaik Anda, sehingga ia lebih dulu “naik pangkat“. Nah, agar Anda dan sang sahabat yang kini sudah menjadi bos tidak canggung kala berhadapan dan pertemanan Anda berdua tidak rusak, simak 7 tips berikut!

  1. Teman Baik Belum Tentu Jadi Bos Baik
    Jangan salah paham dulu! Seringkali Anda berfikir, pada awalnya akan sangat enak bila memiliki atasan yang merupakan teman karib atau sahabat sendiri. Anda salah! Memang, sih, pada beberapa kasus hal ini bisa saja menjadi benar. Namun, banyak pula yang gagal dan pada akhirnya persahabatan terkorbankan dengan sia-sia. Tak saja kehilangan sahabat, Anda pun bisa kehilangan pekerjaan, lho! Jadi, tak semua sahabat baik dapat bekerja sama dalam satu atap, apalagi posisi Anda berdua sebagai atasan dan bawahan. Pada kondisi ini, Anda benar-benar dituntut untuk bersikap profesional, dan buang jauh rasa tersinggung. Bila atasan yang juga sahabat Anda marah, jangan dimasukkan hati atau langsung dijadikan urusan pribadi. Semua ada aturannya. Tempatkanlah diri Anda pada aturan yang benar dan sesuai. Jangan campur adukkan urusan pekerjaan dengan urusan perasaan Anda sebagai sahabatnya. Bila tetap bisa mempertahankan sikap luar biasa profesional, Anda akan dapat bertahan bekerja dengan baik.
  2. Tahu Diri
    Sedekat apa pun hubungan Anda dengan sahabat yang kini menjadi atasan di tempat kerja, mulailah bersikap bijaksana. Jangan terlalu menunjukkan diri Anda sebagai teman dekat sang atasan. Hal ini secara tak langsung akan menimbulkan kecemburuan di antara rekan-rekan kerja lainnya. Bersikaplah apa adanya seperti rekan kerja yang lain, dan jangan mengumbar sikap seberapa dekat Anda dengan sang atasan.
  3. Jadilah Pendukung Yang Baik
    Sebagai sahabat, tentu saja Anda akan mengenal dengan baik karakter atasan di kantor. Maka, faktor ini akan menjadi nilai tambah dan keunggulan lain bagi Anda, sebab hal ini akan dapat memudahkan Anda bersikap dan menerapkan cara kerja bersama atasan. Jadi, bersikaplah dengan baik. Dan jangan pernah sekali-kali membandingkan karakter dan sikap kepemimpinan sang sahabat dengan atasan Anda yang dulu. Setiap orang akan memiliki cirri khas nya masing-masing. Sebaiknya, seraplah yang positif dan buanglah segala yang negatif.
  4. Jangan Bergosip
    Biang gosip merupakan ikon paling terkenal dan dicari di seluruh kantor. Mengapa? Si biang gosip ini begitu ahli dalam mengumbar segala hal yang berbau negatif juga bersifat provokatif. Nah, janganlah Anda termakan gosip! Berada di dalam lingkaran gosip atau menjadi tokoh utama si biang gosip di kantor tempat kerja justru akan membuat Anda rugi. Dengan bergunjing dan bergosip, keahlian kerja Anda tak akan bertambah, bahkan nilai diri Anda di mata reka kerja lainnya akan menjadi negatif. Jadi sekali lagi, stop bergosip!
  5. Kedepankan Etika Kerja
    Walau atasan Anda adalah sahabat sendiri, tetaplah kedepankan etos kerja yang baik, yang diwujudkan tak saja dalam bentuk profesionalitas kerja, tetapi juga pada perilaku Anda. Etika menentukan tingkat profesionalitas Anda. Nah, bila Anda bertemu dengan klien atau harus melakukan pertemuan dengan orang lain, divisi lain, atau perusahaan lain, yang atasan Anda belum mengenalnya, perkenalkanlah dirinya dengan posisinya. Jangan hanya menyebutkan namanya saja, namun yang terpenting siapa dia di dalam organisasi perusahaan. Sehingga pihak ketiga di dalam pertemuan tadi akan mengetahui dengan jelas siapa yang bertanggung jawab dalam struktur organisasi Anda. Hal ini bukan dilakukan untuk menjunjung tinggi sebuah posisi atau jabatannya, melainkan lebih pada struktur tanggung jawab dan peran yang disandangnya. Jangan lupa, perkenalkan dan perlakukan sang sahabat ini layaknya atasan Anda, bukan seperti kawan baik saja.
  6. Sopan Santun Itu Perlu!
    Bila Anda dan sang sahabat telah biasa main cela-celaan, atau saling serobot dalam bersenda gurau, sebaiknya kini sikap konyol tadi jangan dibawa dalam urusan pekerjaan. Anda tetap dapat melakukan sikap kekanak-kanakan di luar urusan pekerjaan. Misalnya, jangan main serobot ketika atasan sedang bicara. Tunggulah ketika ia telah selesai berbicara, barulah Anda menyambungnya. Bila berniat untuk unjuk gigi atas pengetahuan Anda, jangan lakukan dengan cara seperti itu karena, justru akan menujukkan Anda tak berpengetahuan akan etika kerja yang cukup memadai. Apalagi jika posisi Anda cukup senior alias sudah bukan anak baru yang lulus kemarin sore. Bila Anda ingin menambahkan informasi kepada klien saat meeting, tetap lakukan dengan cara-cara yang halus. Tunggu atasan bicara, tambahkan informasi penting dan jangan mencela apa yang ia katakana di depan rekan bisnis atau klien. Prestasi Anda memang tak dihitung dari sikap ini, tetapi lebih dari sikap profesionalitas kerja yang tinggi digabungkan dengan sikap etika kerja yang baik. Maka, tidak saja Anda dapat terus berteman dekat, namun hubungan atasan dan bawahan akan terus langgeng.
  7. Terima Dengan Rendah Hati
    Atasan marah adalah hal biasa. Namun, apa yang terjadi jika atasan yang marah adalah sahabat Anda sendiri? Merasa kesal, tersinggung berat, sakit hati, dan marah yang meluap-luap? Tunggu dulu! Jangan diteruskan. Kemarahan sang sahabat pasti ada sebabnya. Intropeksi diri saja dulu. Jika Anda tak becus mengerjakan tugas-tugas, masak atasan tak boleh marah hanya karena ia sahabat Anda? Tidak mungkin bukan? Agar kondisinya tetap nyaman, mintalah maaf sesegera mungkin dan berjanji, Anda akan memperbaiki kesalahan yang diperbuat. Banyak orang merasa gengsi mengakui dan meminta maaf kepada atasan yang juga sahabatnya sendiri. Padalah ini salah. Jika Anda ingin berada dalam koridor kerja yang profesional, jangan segan segera memperbaiki kesalahan, ditandai dengan rasa maaf yang tulus. Belajarlah menerima teguran dari atasan dengan besar hati. Jangan mentang-mentang ia sahabat, Anda jadi merasa tak perlu minta maaf atas keteledoran dan kelalaian yang dilakukan dalam pekerjaan. Segera perbaiki sikap, dan jadilah pegawai juga individu yang makin baik dari hari ke hari. Percayalah, karier yang bagus memerlukan etos kerja yang tinggi dari setiap pegawai yang ingin berhasil.

Sumber : Kompas.com

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: